Hari pertama perayaan Idul Fitri beberapa waktu lalu, tanpa ada sedikitpun hal yang membuatku kembali mengingat memori masa kuliah dulu, dengan begitu saja tanganku merangkai sebuah nama di search engine, dedi irwansyah. Dengan sadar, dengan tanpa ada hal yang membuatku secara khusus menuliskan nama itu. Tapi inilah hidup, apa yang dulu pernah terlukis begitu berkesan, suatu saat akan terlintas kembali meski banyak hal juga memenuhi memori yang sama didalam kepala. Aku menemukan sebuat alamat blog… aku baca perlahan profile sang empunya. Aku ingat-ingat, aku cermati foto profile yang agak gelap itu. Iya…!!! Itu sahabatku…
Dia, dedi irwansyah adalah kawan satu kampus di Univ. Sanata Dharma Yogyakarta, tapi beda angkatan dan fakultas. Dedi (atau aku lebih akrab panggil dia, Iwan) angkatan 1998 di fakultas Sastra pada jurusan Sastra Inggris, sedangkan aku di FKIP, jurusan Pendidikan Dunia Usaha angkatan 1999. Awal persahabatan kami bermula dari lembaga kemahasiswaan kampus, utusan dari masing-masing fakultas yang diberi mandat untuk duduk sebagai perwakilan lembaga.
Singkatnya, dalam organisasi inilah kedekatan itu semakin terasa, dimana tidak hanya untuk urusan organisasi tapi juga menjadi lebih dekat pada urusan bersahabatan antar individu. Teman diskusi dan sharing berbagai hal yang saling melengkapi satu sama lain. Latar belakang Iwan sebagai mahasiswa sastra, menjadikannya paham tentang berbagai hal yang berkaitan dengan dunia sastra. Mulai dari sastra barat, sampai sastra Indonesia. Aku yang hanya penikmat sastra dan segala hal yang berbau politik, membuat setiap perbincangan terasa hangat, saling mengisi dan mendewasakan satu sama lain.
Sebenarnya kami tidak hanya berdua, masih ada seorang kawan lain, simon silvester yang sampai detik ini tidak kami ketahui dimana keberadaannya. Dia lebih mumpuni untuk sastra barat, dengan berbagai seluk beluk kerumitan yang lebih komplek dari apa yang selama ini aku pahami. Kabar terakhir, dia kembali ke tanah kelahirannya di flores.
Meski dengan latarbelakang berbeda antara aku dan iwan, ternyata tidak memupus harapan untuk berbagi tentang perjalanan hidup. Bermula dari cerita tentang kehidupannya di pesantren dan kehidupanku di asrama katolik, sampai pada idealisme masing-masing membuat perjalanan persahabatan semakin terasa menarik. Panorama kisah yang saling melengkapi membuat kedekatan tidak terasa hambar.
Selang cerita…
Apalagi ketika ada kabar baik bahwa Iwan, pacaran dengan sahabat di satu organisasi juga. Gadis itu bernama Wareh Purwaningrum atau aku lebih akrab memanggilnya Wareh. Seperti pepatah jawa, tresno jalaran soko kulino, itulah yang terjadi pada mereka. Bermula dari beban tanggungjawab organisasi yang harus aku tanggung sebagai seorang ketua, dimana tugas dan tanggungjawab kolektif menjadi sesuatu yang penting, maka ketika aku berlibur, pulang ke kampung halaman di sumatra, aku minta bantuan Iwan untuk membantu Wareh. Wareh sebagai sekretaris mau tidak mau harus menyelesaikan segala hal yang berkaitan dengan tanggunjawab organisatoris ketika aku tinggal. Nach, dari situlah awal kedekatan itu berubah menjadi perasaan sayang diantara keduanya. Dan ketika aku pulang kembali ke jogja, kabar baik itu baru mereka sampaikan kepadaku. Rasa syukur pun aku panjatkan karena dua sahabatku bersatu dalam perasaan yang sama.
Setelah Iwan selesai menempuh study di Sanata Dharma, meski masih satu kota tapi kemudian kami jarang sekali bertemu. Hanya beberapa perjumpaan saja yang bisa kami pakai untuk berbagi cerita. Iwan melanjutkan study S2 di Univ. Negeri Yogya entah pada jurusan apa, yang jelas masih terkait dengan latar belakangnya sastra inggris. Dan Wareh masih harus menyelesaikan study di Sanata Dharma.
Dan berselang cukup lama, mereka berdua bertandang ke kediaman kosku dengan membawa kabar lebih gembira lagi. Yupe, sudah aku duga sebelumnya…. Akhirnya mereka memantapkan diri untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Mereka membawa undangan pernikahan untukku. Dengan gembira aku terima undangan itu dengan harapan bisa menghadiri upacara perkawinan mereka.
Bertepatan dengan hari H pernikahan mereka, ternyata aku tidak bisa menghadirinya. Dengan perasaan kecewa aku hanya bisa mengirim beberapa baris kalimat melalui pesan singkat. Karena waktu itu aku harus pergi untuk suatu kepentingan yang memang tidak bisa aku tunda. Aku hanya bisa mengirim doa untuk kebahagia mereka didalam mengarungi bahtera rumah tangga yang baru.
Hingga akhirnya, kami pun harus kembali terpisah lebih jauh… Iwan mendapat pekerjaan baru sebagai seorang dosen di lampung, tempat kelahiranku. Dan beberapa waktu kemudian Wareh pun mengikuti sang suami.
Dan sekarang, jarak itu semakin jauh pula, aku harus menyemai kehidupan baru di tanah papua, dan mereka masih menetap di tanah lahirku.
Untuk kedua sahabatku, masih tersimpan rapi memori tentang kalian… masih utuh semua kisah persahabatan yang selama ini terjalin. Ini hanyalah sekelumit cerita tentang perjalanan itu. Masih banyak yang tersimpan untuh disini.
Kehidupanku lebih berwana ketika roda kehidupan mempertemukan kita dalam satu persahabatan. Banyak doa untuk kalian, sahabatku… semoga waktu akan mempertemukan kita kembali.
Ditulis oleh seutas tali
Ditulis oleh seutas tali 




