Ternyata lama-lama juga ribet jadi bujangan yang mencoba hidup bak keluarga mandiri ditengah kesibukan kerja. Mengurus segala sesuatunya sendirian, yang artinya semua juga tergantung dari ada kemauan atau tidaknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan wajib sebagai seseorang yang mencoba eksis sendirian.
Mengatur ritme hidup biar tetap stabil dan tidak mengganggu ritme kehidupan yang lain rasanya menjadi tantangan tersendiri buatku. Apalagi ketika masih di jogja, segala sesuatunya aku biarkan mengalir begitu saja. Ritme hidup berjalan tanpa perencanaan yang pasti dalam setiap waktunya. Tapi, dengan begitu pun rasanya tidak menghilangkan makna sebuah kestabilan hidup. Masih ada konsistensi yang coba tetap aku jaga meski kadang orang melihat hal itu sebagai kesia-sia’an belaka.
Begitu pun yang saat ini aku rasakan, tak lebih dari sebuah alur hidup yang merangkak diantara sekian banyak kesesakan kota kecil seperti Biak ini. Semuanya harus ditata dari awal, seperti anak kecil baru masuk SD yang merasakan kegembiraan bisa masuk ke sekolah untuk pertama kalinya. Segala sesuatu dipersiapkan begitu rupa agar kesan sebagai seorang anak sekolah benar-benar tergambar secara fisik.
Meski belum bisa menghilangkan kebiasaan bangun siang, rasanya apa yang aku jalani sekarang lebih konsisten, ritmis dan tidak sekedar membuang waktu dalam menghabiskan hari.
Bekerja atau tidak bekerja, aku tetap di rumah sewa ini yang juga menjadi kantor dan tempat usaha. Meski belum bisa dikatakan maju, tapi usaha service komputer dan warnet “Wisnugraha Komputer” (merujuk ke nama Saudaraku) ini sudah mulai memiliki customer tetap. Beberapa dinas pemerintah daerah dan perusahaan swasta mempercayakan maintenance network dan instalasi komputer mereka ke tempat ini. Dengan begitu, secara tidak langsung sudah bisa menggambarkan kalau eksistensi usaha ini sudah diperhitungkan beberapa dinas di kab. Biak.
Kembali ke sisi kehidupanku sendiri, yang rasanya memang harus diterapi kembali dari awal.
Kesibukan di siang hari memang tidak begitu menyita waktu buatku, apalagi warnet sudah ada yang bertugas jaga. Menerima pengetikan dan rental komputer yang menjadi salah satu bagian dari usaha ini sudah bisa di handle bagian depan yang mengurus aktifitas warnet. Sedangkan untuk service, biasanya cek sebentar untuk memastikan kerusakan kemudian ditinggal oleh customer untuk dibedah lebih dalam; kena stroke atau cuma sakit ringan. Dan itu baru menjadi bagianku setalah hari berganti malam. Membedah dan menganalisa kerusakan apa yang menjangkiti komputer customer itu. Dan kalau penyakit malas baru menjangkiti, biasanya hanya duduk didepan komputer dengan mata dan tangan tidak lepas dari keybord dan monitor. Dengan tidak lupa harus tersedia rokok + kopi sebagai teman setiap hari. Inilah penyakit kronis yang sampai saat ini aku derita. Kemudian komputer rusak aku serahkan ke bagian teknisi yang sudah sejak lama menjadi dokter disini.
Tidur menjelang pagi, dan bangun kalau mentari sudah mulai bertengger diatas kepala. Ketika pagi menjelang dan jam kerja dimulai, sudah ada yang standby buka pintu kantor dan menunggu customer datang dengan berbagai permasalahan mereka tentang komputer dan periperalnya. Menyapa setiap user yang ingin menggunakan layanan internet. Semuanya berjalan dengan begitu saja, dan terkesan tidak ada management yang profesional.
Tapi, ooppps.. tunggu dulu… meski begini, segala sesuatunya tetap tertib. Administrasi keuangan dan database tetap teratur rapi. Tanpa meninggalkan konsep manajerial yang benar, rasanya bekerja dengan konsepsi air, “mengalir” tanpa ada keterpaksaan dan preasure rasanya lebih nikmat dijalani bagi semua yang ada disini. Bekerja sesuai dengan jobdis masing-masing dan aura kekeluargaan yang tetap dijaga menjadikan kerja bukanlah sebagai beban. Kerja lebih terasa sebagai bagian dari hobby dan ajang aktualisasi diri baik secara keilmuan maupun sosialisasi dengan customer/user sebagai masyarakat pengguna jasa.
Dari sinilah aku belajar untuk lebih menghargai karya dari pada “kata” omong kosong belaka. Sedikit bicara tapi banyak bekerja tanpa menunggu harus dikomando.
Dan aku, meski kadang belum bisa melepas egoisme pribadi, tapi paling tidak sudah ada satu pemahaman buatku sendiri bahwa tidak ada kebenaran absolut. Setiap individu memiliki cara dan sudut pandang berbeda. Itulah yang harus sama-sama dikompromikan, dibicarakan dan cari titik temunya. Aku coba membangun nuansa kerja yang demokratis meski tak lepas dari sikap kritis.
Yach, namanya juga mencoba hidup mandiri, meski idealisme harus tetap dijaga, tapi bukan berarti harus mengesampingkan hak oranglain untuk sama-sama berpegang pada dealisme.