Tujuh belas juli

Juli 31, 2009

Tujuh belas juli… seuntai makna, selaras rasa…

Terpotong diantara jejak, merenda waktu dalam rentang tak bernyawa.

Semoga tak hanya mengulur senja, tak hanya membenamkan usia, tetapi mengemas sepotong mimpi menjadi nyata.

“Jejak Langkah” menjadi pertanda… mengarungi samudra dalam himpitan rasa.

Terima kasih cinta, lembar baru mari toreh bersama…


Back to …

Desember 7, 2008

Melihat foto itu, ingatan kembali ke masa lalu ketika dunia kampus masih menjadi satu sisi kehidupanku. Ketika hasrat meretas cita masih menggebu diantara gejolak darah muda yang masih senang untuk mencoba dan mencari sesuatu diluar kehidupan normal yang semestinya.

 

Ex Hadi Djaya Djogja

Ex Hadi Djaya Djogja

Hitam putih dunia muda membawaku untuk menemukan sisi diri yang lain mana kala kehidupan masih menawarkan heroisme dan letupan sesuatu yang baru. Membawa keinginan untuk mencoba berbagai hal yang kadang berbenturan dengan idealisme yang sesungguhnya. Bahkan harus mempertaruhkan masa depan yang sebenarnya tidak sebanding bila kesalahan sedikit saja menghantarku ke terali yang sungguh menjadi ketakutan banyak orang. Dunia malam, minuman keras pernah menjadi bagian lain dari sisi kehidupanku. Menempa realitas muda yang seakan hanyut dengan satu sisi hiruk pikuk kedunawian.

Namun bukan berarti kehidupan kelam mendominasi dalam jejak masa lalu itu. Banyak hal yang membuatku kembali bertanya pada diri sendiri hingga menemukan sesuatu yang seakan tak pernah terduga. Mewujudkan mimpi ditengah keterpurukan yang seakan dating silih berganti. Mengganti jejak kelam dengan panorama warna kehidupan yang makin mendewasakan.

Itulah hidup, kehidupan dan perjalanan hidup. Masa lalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan hari ini. Terbentang antara kebekuan dan harmonisasi perjalanan hidup.


Kembali ke masa lalu

November 14, 2008

Baru saja mendengar lagu No Matter What yang dinyanyikan Boyzone. Rasanya seperti kembali ke sama lalu, saat dimana waktu masih mengurungku di rengkuhan Asrama SMU Sedes Sapientiae Bedono, Jambu. Ingat teman-teman Asrama yang buatku sudah menjadi bagian dari keluarga besarku. Teringat waktu sore hari menjelang makan malam bersama, iringan lagu ini berulang mengalun diantara tawa ria dan cengkrama penghuni asrama disela rekreasi sebelum makan malam. Juga ketika malam minggu menjelang, diantara keramaian dilapangan basket anak-anak asik bermain dan menonton. Lagu ini tidak henti-hentinya mengiringi dengan setia. Juga Wish that I was there dari Hanson, Dan Byrd dengan Boulevardnya. Sungguh indah, terharu dan bahagia ketika teringat masa-masa dulu dimana kehidupan sungguh terasa berwarna.

Dari sana aku menemukan apa yang disebut orang sebagai social community yang benar-benar heterogen. Berwarna dan penuh panorama yang rasanya tidak akan pernah aku alami lagi dalam membentuk kepribadian. Meski banyak sekali hal yang kadang tidak bisa diterima, tapi sudut itu telah menempaku menjadi seseorang yang tidak hanya terpaku pada satu sudut pandang. Melihat dengan kacamata satu arah, tetapi membuka mataku bahwa panorama itu indah. Kebersamaan itu kunci dari sebuah keberhasilan hidup. Toleransi itu wujud dari keterbukaan pola pikir dan pemahaman.

Meski Asrama Sedes Sapientiae adalah asrama berlatarbelakang Katolik Roma, yang dikelola oleh Yayasan Marsudirini dibawah naungan SMA Sedes Sapientiae, tetapi dalam perjalanannya, tidak hanya pemeluk Katolik Roma saja yang ada didalamnya. Pemeluk agama Islam, Kristen, Budha, Hindu pun diberi kesempatan yang sama untuk merasakan dunia komunitas dalam keluarga besar Sedes Sapientiae.

Dunia baru yang mengedepankan kebersamaan, kesetiakawanan dan toleransi sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Kepekaan dan aktualisasi diri menjadi sesuatu yang indah ketika semuanya sama-sama belajar dalam satu dekade kehidupan yang sama. Merajut cita dan cinta dalam satu naungan yang selalu meneduhkan.

Aku rindu kalian, sahabat-sahabatku…saudara-saudaraku…

Guru dan pembimbingku…


Tik tak ….

November 9, 2008

Mmmmmm, minggu dan minggu lagi…rasanya waktu begitu cepat berlalu. Pagi dan pagi lagi dengan detik dan menit yang sama dalam setiap waktunya. Mengalir tanpa ada setitik pun nohtah keengganan. Seakan waktu bukanlah halangan untk meniti hari, merajut untai kehidupan yang semakin hari terasa semakin berbeda.

Berwarnakah? Atau memang ini merupakan sebuah halusinasi hidup yang sekedar mengelabui? Ah, langkah bak terhempas angin pantai disudut sana, menghempaskan pikiran sedu sedan kebebalan. Terlalu melankoliskah? Atau memang begini jejak yang harus aku lalui?

Mewujud, nyata dan terbersit diantara selongsong pikiran menghanyutkan. Menyentuh sudut dan relung yang tak semestinya diraba. Meremas makna yang tak lagi bernyawa. Terlanjur melekat, terlanjur terjerat, terajut pekat. Terangkum dalam asa yang tak bisa diterka.

Semakin terpana, menjelajah waktu dengan logika diantara yang tak nyata. Mengemas waktu dalam sebuah terali hidup yang tak mengekang rasa. Bebas, lepas, tak terasa sebagai belenggu.

Langit menitikkan embun, samudra menyemai deru dan hempasan. Semuanya begitu nyata, tak lagi menghitung waktu. Tak lagi menanti detik.

Inilah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Berdiri dan menanti disetiap sudut yang tak akan berbatas waktu.


Akhir dari pencarian seorang sahabat..

Oktober 31, 2008

Mungkin Tuhan memang sengaja memberi jalan untuk kembali menemukan sahabat yang sudah lama sekali menghilang. Hari kemaren, setelah membaca tulisan Iwan, terkenang juga dengan masa-masa saat dimana kami tergabung dalam organisasi kemahasiswaan BPMU. Belajar berdinamika dan belajar memahami berbagai macam perbedaan.
Simon Silvester Sedu Mali yang selama ini tidak terdengar kabar berita, akhirnya aku temukan juga berkat bantuan om google. Berawal dari search dengan kata kunci nama “sang oknum” akhirnya aku temukan dua referensi yang menjurus ke kata kunci yang aku cari. Aaaahhhh, aku temukan alamat email dan satu nomor HP meski masih belum bisa meyakinkan benar atau tidaknya itu alamat dan nomor kontak Simon.
Aku coba kirim email ke alamat tersebut dan sms ke nomor itu, ternyata… benar!!! Itu nomor Simon sahabatku yang sudah lama menghilang. Aku telfon dan dengan keasingan, saling tanya, akhirnya aku bisa berbicara dengan sahabat yang selama ini hilang. Sahabat aneh yang tergila-gila pada seorang gadis manis anak fakultas tetangga ketika masih kuliah. (sorri ya mon..hehehehe.) Masih dengan suara yang khas, nada bicara yang khas pula, kembali mengenang masa-masa dulu, bertanya kabar dan berbagi sedikit cerita diantara kesibukannya bekerja. Sahabat yang gila dengan berbagai hal baru, sampai didalam kamar kostnya tidak bisa disebut sebagai kamar. Buku berserakan disetiap sudut kamar, tanpa ditata, tanpa diperhatikan mana yang harus dikembalikan ke perpustakaan. Foto copyan buku/koran dari perpus dan cuplikan-cuplikan artikel lain menghiasi tembok kamar kostnya. Yach, itulah Simon yang akhirnya sampai juga pada idealismenya, sampai pada titik dimana dia bisa menempuh jenjang pendidikan S2 Hukum.
Cayo kawan, rangkai hidupmu dengan bekal yang kau punya. Sampaikan pada idealismemu, bahwa hari ini bukan lagi dialektika seperti dulu, hari ini adalah nyata. Hari ini adalah jalan untuk menemukan konsistensi yang terhimpit oleh pekatnya kebutuhan hidup.
Untuk Iwan, bingkisan setelah aku pulang dari Lampung dulu, sampai sekarang masih aku simpan, kawan… Kenangan paling berharga yang aku miliki darimu..Dua bait tulisan Arab yang menjadi simbol keagungan Sang Khaliq, Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga atas pinjeman buku ABCD kehidupan-nya Anand Krisna yang membuatku semakin yakin bahwa perbedaan itu indah bak panorama diantara mahligai kehidupan.
Selamat berkarya untuk sahabat-sahabatku, di ujung timur Indonesia aku berdiri, menatap gegap gempita kehidupan disisi lain.
Salam…


Belajar dari sisi lain

Oktober 15, 2008

Ternyata lama-lama juga ribet jadi bujangan yang mencoba hidup bak keluarga mandiri ditengah kesibukan kerja. Mengurus segala sesuatunya sendirian, yang artinya semua juga tergantung dari ada kemauan atau tidaknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan wajib sebagai seseorang yang mencoba eksis sendirian.

Mengatur ritme hidup biar tetap stabil dan tidak mengganggu ritme kehidupan yang lain rasanya menjadi tantangan tersendiri buatku. Apalagi ketika masih di jogja, segala sesuatunya aku biarkan mengalir begitu saja. Ritme hidup berjalan tanpa perencanaan yang pasti dalam setiap waktunya. Tapi, dengan begitu pun rasanya tidak menghilangkan makna sebuah kestabilan hidup. Masih ada konsistensi yang coba tetap aku jaga meski kadang orang melihat hal itu sebagai kesia-sia’an belaka.

Begitu pun yang saat ini aku rasakan, tak lebih dari sebuah alur hidup yang merangkak diantara sekian banyak kesesakan kota kecil seperti Biak ini. Semuanya harus ditata dari awal, seperti anak kecil baru masuk SD yang merasakan kegembiraan bisa masuk ke sekolah untuk pertama kalinya. Segala sesuatu dipersiapkan begitu rupa agar kesan sebagai seorang anak sekolah benar-benar tergambar secara fisik.

Meski belum bisa menghilangkan kebiasaan bangun siang, rasanya apa yang aku jalani sekarang lebih konsisten, ritmis dan tidak sekedar membuang waktu dalam menghabiskan hari.

Bekerja atau tidak bekerja, aku tetap di rumah sewa ini yang juga menjadi kantor dan tempat usaha. Meski belum bisa dikatakan maju, tapi usaha service komputer dan warnet “Wisnugraha Komputer” (merujuk ke nama Saudaraku) ini sudah mulai memiliki customer tetap. Beberapa dinas pemerintah daerah dan perusahaan swasta mempercayakan maintenance network dan instalasi komputer mereka ke tempat ini. Dengan begitu, secara tidak langsung sudah bisa menggambarkan kalau eksistensi usaha ini sudah diperhitungkan beberapa dinas di kab. Biak.

Kembali ke sisi kehidupanku sendiri, yang rasanya memang harus diterapi kembali dari awal.

Kesibukan di siang hari memang tidak begitu menyita waktu buatku, apalagi warnet sudah ada yang bertugas jaga. Menerima pengetikan dan rental komputer yang menjadi salah satu bagian dari usaha ini sudah bisa di handle bagian depan yang mengurus aktifitas warnet. Sedangkan untuk service, biasanya cek sebentar untuk memastikan kerusakan kemudian ditinggal oleh customer untuk dibedah lebih dalam; kena stroke atau cuma sakit ringan. Dan itu baru menjadi bagianku setalah hari berganti malam. Membedah dan menganalisa kerusakan apa yang menjangkiti komputer customer itu. Dan kalau penyakit malas baru menjangkiti, biasanya hanya duduk didepan komputer dengan mata dan tangan tidak lepas dari keybord dan monitor. Dengan tidak lupa harus tersedia rokok + kopi sebagai teman setiap hari. Inilah penyakit kronis yang sampai saat ini aku derita. Kemudian komputer rusak aku serahkan ke bagian teknisi yang sudah sejak lama menjadi dokter disini.

Tidur menjelang pagi, dan bangun kalau mentari sudah mulai bertengger diatas kepala. Ketika pagi menjelang dan jam kerja dimulai, sudah ada yang standby buka pintu kantor dan menunggu customer datang dengan berbagai permasalahan mereka tentang komputer dan periperalnya. Menyapa setiap user yang ingin menggunakan layanan internet. Semuanya berjalan dengan begitu saja, dan terkesan tidak ada management yang profesional.

Tapi, ooppps.. tunggu dulu… meski begini, segala sesuatunya tetap tertib. Administrasi keuangan dan database tetap teratur rapi. Tanpa meninggalkan konsep manajerial yang benar, rasanya bekerja dengan konsepsi air, “mengalir” tanpa ada keterpaksaan dan preasure rasanya lebih nikmat dijalani bagi semua yang ada disini. Bekerja sesuai dengan jobdis masing-masing dan aura kekeluargaan yang tetap dijaga menjadikan kerja bukanlah sebagai beban. Kerja lebih terasa sebagai bagian dari hobby dan ajang aktualisasi diri baik secara keilmuan maupun sosialisasi dengan customer/user sebagai masyarakat pengguna jasa.

Dari sinilah aku belajar untuk lebih menghargai karya dari pada “kata” omong kosong belaka. Sedikit bicara tapi banyak bekerja tanpa menunggu harus dikomando.

Dan aku, meski kadang belum bisa melepas egoisme pribadi, tapi paling tidak sudah ada satu pemahaman buatku sendiri bahwa tidak ada kebenaran absolut. Setiap individu memiliki cara dan sudut pandang berbeda. Itulah yang harus sama-sama dikompromikan, dibicarakan dan cari titik temunya. Aku coba membangun nuansa kerja yang demokratis meski tak lepas dari sikap kritis.

Yach, namanya juga mencoba hidup mandiri, meski idealisme harus tetap dijaga, tapi bukan berarti harus mengesampingkan hak oranglain untuk sama-sama berpegang pada dealisme.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.